Poto asli ni
SENIN 28 Juli 2008, Simpang Potong, Kota Padang. Sebentuk tubuh tua
ringkih, tampak terduduk lesuh. Tanpa alas di atas trotoar berwarna
coklat. Tubuhnya hanya terbungkus kemeja buram. Kepalanya, juga tertutup
kopiah hitam yang tampak sudah digerogoti usia. Kopiah itu, seolah
setia menutupi rambutnya yang memutih.
Lelaki tua itu bernama Anwar berumur 94. Tanah Kuranji adalah tempat
pertama yang menyambut kelahiran Anwar. Wajahnya keriput, dipenuhi
bulu-bulu kasar berwarna abu-abu. Dengan gigi yang hanya tinggal dua,
mulut Pak tua tampak komat-kamit, menyeringai. Sesekali, tangannya
menengadah, pada setiap manusia yang berlalu. Berharap belas kasihan dan
secarik uang untuk pengisi perutnya yang mulai minta diisi. Namun semua
tampak acuh. Anwar tak putus asa, tangannya semakin dijulurkan.
Anwar tak punya rumah. Hidupnya hanya numpang di rumah warga Koto Baru,
orang yang berbaik hati menampung tubuh ringkihnya. Hidup sendirian di
hari tua ternyata membuat Anwar harus mengalah pada kerasnya dunia. 10
tahun sudah Anwar jadi pengemis. Hanya menengadahkan tangannya, itulah
cara Anwar bertahan hidup. Maklum, usia yang hampir satu abad tak ada
yang bisa dikerjakannya. Tulangnya rapuh.
Jangan tanyakan keluarga pada Anwar, sebab, itu hanya akan membuatnya menangis.
"Saya tak punya keluarga. Istri saya sudah meninggal tahun 1960. Bersama bayi yang dikandungnya. Mati karena kurangnya gizi" terang Anwar. Air mata bening menjalar di pipi keriputnya.
Tak seperti pengemis lainnya, yang kebanyakan terbelakang dan tak pernah mengenyam pendidikan. Anwar lain.
Tiga
bahasa asing, Bahasa Jepang, Ingris dan Belanda dikuasainya. Bahkan
waktu berdialog dengan POSMETRO sesekali lontaran ucapan berbahasa
Belanda pun diucapkannya. Anwar fasih, lidah tuanya seakan sudah biasa melafazkan ucapan bahasa asing tersebut.
Semakin penasaran dengan "Pak Tua Simpang Potong" itu, Penulis pun mulai
menjejeri langkah Anwar. Mencoba mengorek lebih dalam tentang dirinya.
Siapa gerangan Anwar, sudah rapuh tapi kuasai tiga bahasa? Ada sesuatu
cerita tersembunyi dari lembar hidup Pak tua dan itu membuat hasrat
penasaran penulis kambuh!. Dua hari menyatroni Anwar di simpang Potong,
akhirnya Penulis tahu kalau Anwar bukan pengemis sembarangan. Catatan
sejarah terpampang dari celoteh Pak Tua itu.
Memang sekarang Anwar hanyalah pengemis tua yang menyedihkan. Hidupnya
tak tentu arah. Tapi, jika merunut sejarah "tempo doeloe" Anwar adalah
pemuda gagah yang ikut mengokang senjata melawan para penjajah. Pangkat
yang disandang Anwarpun tak main-main, Letnan Satu, Komandan Kompi 3
Sumatra Bagian Selatan. Itulah daerah Anwar waktu menjabat sebagai
serdadu bangsa untuk mengusir penjajah. Bukankah luar biasa "si Anwar
Muda"?.